Home / Politik

Kamis, 26 Agustus 2021 - 07:30 WIB

PAN Gabung Koalisi Pemerintah, Pengamat: Dalam Politik Tak Ada Makan Siang Gratis

JAKARTA, IDN Hari Ini  – Bergabungnya Partai Amanat Nasional (PAN) dengan koalisi pemerintah dinilai sebagai bentuk cairnya iklim perpolitikan di Indonesia. Hal itu disampaikan Pengamat Komunikasi Politik Emrus Sihombing.

“Bagi saya, tidak sesuatu yang heran. Karena politik itu cair. Karena di politik itu tidak ada musuh sejati tidak ada kawan sejati,” kata Emrus saat dihubungi MNC Portal, Rabu (25/8/2021).

Emrus berpandangan, bila dalam waktu dekat Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan reshuffle kabinet, bukan tidak mungkin PAN akan dapat jatah kursi. “Landasannya dari sudut politik, yakni tak ada makan siang yang gratis. Artinya saya masuk saya dapat apa?,” tutur

Baca Juga  Emrus: Pencalonan Anies Membuat NasDem Berada dalam Posisi Sulit


Sosok Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan bisa menjadi opsi bila nantinya PAN diberi kursi kabinet oleh Presiden Jokowi. Meski begitu, Emrus mengatakan bukan tidak mungkin kader-kader terbaik lainnya juga menjadi pilihan. “Saya pikir PAN juga akan melihat demikian karena pengalaman kader-kadernya sudah lama berkecimpung di bidang politik. Saya pikir ada figur yang bisa ditonjolkan di menteri,” tukasnya.

Baca Juga  Emrus Sihombing : Laporan Luhut dan Erick Thohir ke KPK Soal Tes PCR Terkesan Politisi dan Lemah


Sebelumnya, Presiden Jokowi baru saja mengumpulkan ketua umum (Ketum) dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) parpol koalisi pemerintah di Istana Merdeka, Jakarta. Ternyata, dalam pertemuan tersebut, ada parpol yang menjadi anggota baru koalisi yakni PAN.

Hal ini disampaikan Sekjen Partai Nasdem Johnny Plate dalam konferensi pers yang digelar secara daring di rumah dinasnya di Widya Chandra, Rabu (25/8/2021) malam. Johnny menguraikan elite-elite parpol yang hadir dalam pertemuan tersebut, termasuk PAN yang disebutkan menjadi sahabat baru koalisi.



Menurutnya, bergabungnya PAN diharapkan semakin memperkuat dan memperkaya gagasan dan pandangan serta ide-ide baru dalam rangka melanjutkan pemerintahan dan mengisi demokrasi Indonesia. Johnny melanjutkan, karena masih suasana pandemi yang dibicarakan tadi adalah bagaimana kegotongroyongan politik dapat dilakukan, sehingga bisa menghasilkan kebijakan secara cepat, tepat, dan efesien. Jangan sampai terjadi kegagapan dalam kebijakan.( IDN )

Share :

Baca Juga

Politik

Relawan Harus Izin Ganjar dan PDIP Jika Ingin Deklarasi Dukungan

Politik

Pihak yang   Mengamandemen UUD 1945 terkait Pemilu 2024, Mesti Lalui ‘Tembok’ PDIP

Politik

BEM UI Sebut Binsar Panjaitan Arogan?

Politik

Emrus Sihombing: NasDem Sebaiknya tidak Campuri Internal Golkar, Etika politik Jelas Hal Ini  Tidak Etis.

Politik

Emrus Sihombing : Laporan Luhut dan Erick Thohir ke KPK Soal Tes PCR Terkesan Politisi dan Lemah

Politik

Politik AHY Tidak Dewasa, Ada Upaya Framing Seolah SBY Lebih Baik Dari Jokowi

Politik

Yusril Sindir AHY, Kalau PBB Tak Calonkan, Bapak Anda Nggak Jadi Presiden

Politik

Emrus Sihombing: Jubir Kementerian Bukan Pesuruh Menteri

Contact Us