Home / Cilacap / Jateng / Metropolitan / Nasional / Regional

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:07 WIB

Sarasehan Lintas Iman SOBAT di Cilacap Bahas Kearifan Lokal Hadapi Perubahan Iklim, Budaya, dan Politik

IDN Hari Ini, Cilacap – Gerakan Lintas Iman SOBAT menggelar Sarasehan Lintas Iman di Pondok Pesantren Raudlatul Huda, Welahan Wetan, Cilacap, Jawa Tengah, pada 27–28 Oktober 2026.

Kegiatan ini mengangkat tema “Mencermati Kearifan Lokal Bersama untuk Menghadapi Perubahan Alam (Iklim), Budaya, dan Politik: Merawat Kehidupan Hari Ini dan Masa Depan.”

Sarasehan tersebut menjadi ruang perjumpaan lintas iman untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal, memperkuat solidaritas antarumat beragama, serta membahas tantangan perubahan iklim, pergeseran budaya, dan dinamika politik yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

Gerakan Lintas Iman SOBAT merupakan inisiatif bersama yang lahir pada 2002 melalui kerja sama Pondok Pesantren Edi Mancoro, Sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ), dan Percik Salatiga.

Sejak awal, SOBAT mengembangkan ruang dialog dan kerja sama antarumat beragama di berbagai daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

SOBAT memandang solidaritas lintas iman sebagai salah satu fondasi penting untuk memperkuat kohesi sosial dan menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan secara bersama-sama.

Kearifan Lokal dan Perubahan Iklim Jadi Perhatian Bersama

Perhatian SOBAT terhadap persoalan lingkungan terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, sarasehan di Tegal mengangkat tema gerakan lintas iman dan perubahan iklim dengan mempertemukan pengetahuan ilmiah serta perspektif penghayat kepercayaan Kejawen.

Pada 2024, kegiatan di Bantul berfokus pada pengelolaan sampah dan praktik lingkungan berkelanjutan. Sementara itu, pada 2025, sarasehan di Desa Loireng, wilayah pesisir utara Jawa Tengah, menyoroti dampak perubahan iklim serta pentingnya solidaritas lintas iman dalam menghadapi persoalan tersebut.

Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan bahwa krisis iklim tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyangkut persoalan sosial, budaya, mata pencaharian, dan spiritualitas masyarakat.

Pada 2026, Cilacap dipilih sebagai lokasi sarasehan untuk memperluas refleksi mengenai perubahan iklim dan kehidupan masyarakat pesisir selatan Jawa. Wilayah ini memiliki kekayaan tradisi dan pengetahuan lokal, salah satunya yang hidup dalam komunitas Bonokeling.

Tradisi tersebut menjadi pintu masuk untuk mendiskusikan hubungan manusia dengan alam, membangun kebersamaan, serta menjaga nilai-nilai kehidupan di tengah perubahan zaman.

Teknologi Digital dan Kecerdasan Buatan Ikut Disorot

Selain isu lingkungan, sarasehan juga menyoroti perubahan budaya akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan, membangun relasi sosial, serta menjalankan kehidupan beragama dan berkeyakinan. Di sisi lain, perubahan tersebut menghadirkan pertanyaan mengenai kebenaran informasi, keberlanjutan pewarisan tradisi, otoritas pengetahuan, dan tanggung jawab moral.

Persoalan lingkungan yang berkaitan dengan perkembangan teknologi juga menjadi perhatian. Pembangunan pusat data, misalnya, membutuhkan energi listrik dan air dalam jumlah besar. Penggunaan sumber daya tersebut perlu diperhitungkan dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dan menghadapi perubahan iklim.

Karena itu, dialog mengenai teknologi dan lingkungan dinilai penting agar kemajuan digital dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan ekologis.

Mendorong Keterlibatan Masyarakat dalam Menentukan Masa Depan

Perubahan alam, budaya, dan politik memiliki keterkaitan erat. Kondisi lingkungan memengaruhi kehidupan dan kebudayaan masyarakat, sementara perkembangan teknologi mengubah cara masyarakat memahami serta merespons berbagai persoalan.

Pada saat yang sama, kebijakan publik dan dinamika politik turut menentukan bagaimana sumber daya alam dan ruang hidup masyarakat dikelola.

Dalam konteks tersebut, kearifan lokal tidak semata-mata dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan dan praktik kehidupan yang dapat terus dikembangkan melalui dialog dengan ilmu pengetahuan modern serta kebijakan publik.

Sarasehan Lintas Iman SOBAT di Cilacap diharapkan menjadi ruang refleksi bersama untuk membaca persoalan secara kritis, merawat nilai-nilai yang menopang kehidupan, dan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menentukan masa depan.

Melalui dialog lintas iman dan penghargaan terhadap pengetahuan lokal, upaya menjaga lingkungan, merawat keberagaman, serta memperkuat solidaritas sosial diharapkan menjadi tanggung jawab bersama demi keberlanjutan kehidupan generasi mendatang. (Sugito)

Share :

Baca Juga

Daerah

Polres Humbahas Melaksanakan Rapat Koordinasi Kesiapan Operasi Ketupat Toba 2026

Banten

Proyek Embung Aryana Sukabakti Rp.14,57 M Disorot, KITA-PD Minta DPUPR Banten Buka Data Pengadaan Barang Jasa dan Status Lahan di bawah Sutet

Cirebon

Jelang Ramadan 1447 H, Kapolresta Cirebon dan Forkopimda Sidak Dua Pasar, Pastikan Harga Sembako Stabil dan Stok Aman

Daerah

Bupati Humbang Hasundutan Pimpin Rapat Kerja Percepatan Pelaksanaan Program 2026 dan Pemulihan Pasca Bencana

Banten

KITA-PD Layangkan Surat Klarifikasi ke DLH Tangsel, Soroti Dugaan Mark-Up Proyek Taman Rakyat Rp.3,87 Miliar

Cirebon

Kunjungan Kerja Dirgakkum Korlantas Polri Cek Kesiapan Pos Terpadu KM 188 Tol Cipali Polresta Cirebon 

Cirebon

Wakapolresta Cirebon Pimpin Apel Pagi, Tekankan Kedisiplinan dan Netralitas Polri dalam Pemilu 2024

Daerah

Polres Nias Laksanakan Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Toba 2024