Home / Banten / Daerah / Ekonomi / Hukum / Kriminal / Metropolitan / Nasional / Regional / Tangerang Raya / TNI/ Polri

Selasa, 30 September 2025 - 22:02 WIB

Aktivis KITA-PD Laporkan Dugaan Korupsi Pengadaan Ban Bus Rapid Transit (BRT) ke Kejaksaan Negeri Tangerang

IDN Hari Ini, Kota Tangerang – Koalisi Independen Transparansi Anggaran Pusat dan Daerah (KITA-PD) Provinsi Banten secara resmi melaporkan dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan ban untuk Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Tangerang. Laporan telah diterima oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tangerang dengan Nomor Register: KT/023/LP/KITA-PD/IX/2025.

Dalam keterangan tertulisnya, Selasa (30/09/2025) aktivis KITA-PD Dedi Haryanto mengungkap temuan praktik penggunaan ban bekas yang divulkanisir atau ditambal ulang, padahal spesifikasi pengadaan mensyaratkan menggunakan ban baru.

“Berdasarkan hasil pemantauan dilapangan, sebagian ban BRT Kota Tangerang menggunakan ban vulkanisir. Hal ini jelas menyalahi aturan pengadaan karena seharusnya ban baru yang dipakai,” ujar Dedi perwakilan KITA-PD.

Modus dan Potensi Kerugian Negara

Kami menduga, modus penggunaan ban vulkanisir ini sengaja dilakukan untuk menciptakan selisih harga antara ban baru yang dianggarkan dengan ban bekas yang dipasang. Selisih harga ini diduga kuat berpotensi menimbulkan kerugian pada keuangan negara.

Dedi pun menyatakan bahwa dugaan praktik ini telah berlangsung lama, yakni dari tahun 2016 hingga 2025. Lokasi dimana praktik ini diduga terjadi adalah di bengkel PT Tiara Perkasa Mobil (TPM) yang berlokasi di Terminal Poris Plawad.

Operator dan Subsidi Pemerintah Kota

Pengelolaan proyek BRT Kota Tangerang berada di bawah PT Tangerang Nusantara Global (TNG), dengan PT TPM bertindak sebagai operator. Operasional BRT sendiri diketahui menerima subsidi tahunan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang sebesar sekitar Rp5 miliar. Dana subsidi ini terpisah dari penerimaan retribusi tarif penumpang yang dikelola secara non-tunai oleh PT TNG.

Ancaman terhadap Keselamatan Penumpang

Selain merugikan keuangan negara, Dedi hanya menegaskan bahwa penggunaan ban vulkanisir pada kendaraan sebesar dan seberat BRT sangat membahayakan keselamatan penumpang. Ban vulkanisir memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kegagalan struktural, seperti meletus atau terlepas, yang dapat mengakibatkan kecelakaan serius.

Oleh karena itu, Dedi mendesak Kejari Kota Tangerang untuk segera melakukan penyidikan dan mengambil langkah hukum yang tegas sesuai dengan Undang-Undang Nomor 31/1999 Jo. Perubahan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, pungkasnya (T-Red)

Share :

Baca Juga

Daerah

Tes Urine Pegawai dan WBP, Rutan Humbahas Komitmen Bersih Narkoba

Banten

Jajaran Struktural Deklarasi Demokrasi Wartawan Kreasi Nasional, Gelar Rapat Pemantapan di Kota Tangerang

Banten

Ahmad Zaki Iskandar Eks Bupati Tangerang, Tegaskan Pagar Bambu Pesisir Sudah Ada Sebelum Proyek PIK 2

Daerah

Penandatanganan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerjasama, antara Pemerintah Kota Gunungsitoli dengan PT. PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sumatera Utara UP3 Nias

Banten

Tahun Ajaran Baru, Semangat Baru Untuk SDN Sindang Panon ll

Bandung

Pegi Setiawan Akhirnya Bebas dari Tahanan Polda Jawa Barat

Daerah

Pemkab Humbhas Berikan Bantuan kepada Korban Kebakaran Rumah di Kecamatan Lintongnihuta

Daerah

Dugaan Penyelewengan Dana Aspirasi Gubernur TA 2019 di Desa Kambangan – Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah