IDN Hari Ini,Wonosobo – Sebagai upaya mencetak generasi yang kompeten di kancah global, SMP Al Madina Wonosobo memberangkatkan 48 siswa Program Bilingual untuk mengikuti kegiatan Immersive English Study (IES) di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur, Minggu (4/1/2026).
Program ini berlangsung selama sembilan hari dan dirancang untuk memberikan pengalaman belajar bahasa Inggris secara intensif di luar kelas formal.
Kegiatan IES dilatarbelakangi kebutuhan akan supporting environment yang mendorong siswa mempraktikkan bahasa Inggris secara aktif dalam kehidupan sehari-hari.
Meski telah mendapatkan kurikulum bilingual di sekolah, penggunaan bahasa Inggris di luar jam pelajaran dinilai masih belum optimal.
Kampung Inggris Pare dipilih karena dikenal sebagai pusat pembelajaran bahasa Inggris terbesar di Indonesia dengan penerapan kawasan berbahasa Inggris (English Area) selama 24 jam.
Program ini juga merupakan tindak lanjut dari kegiatan English Capacity Building for NU Teachers Batch-1, hasil kerja sama LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah dengan YPI Nasima Semarang.
Program tersebut merupakan pelatihan bahasa Inggris intensif bagi guru, ustadz/ustadzah, serta pendidik di sekolah dan pesantren di bawah naungan LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah.
Dalam program tersebut, LP Ma’arif NU PCNU Wonosobo mengutus Ustadzah Nadia Ningsih Kusuma Efendi untuk mengikuti kursus bahasa Inggris intensif di Kampung Inggris Pare selama enam pekan.
Pengalaman dan hasil penguatan kapasitas pendidik itu kemudian direplikasi dan dikembangkan menjadi program Immersive English Study bagi siswa Program Bilingual SMP Al Madina Wonosobo.
Kepala SMP Al Madina Wonosobo, Faizal Arifin, S.Pd., yang akrab disapa Ustadz Faiz, menegaskan bahwa IES tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan bahasa Inggris, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik.
“Kami ingin siswa berani berkomunikasi, disiplin, dan mandiri, sekaligus tetap berpegang pada nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, seperti adab, tawadhu’, saling menghargai, serta sikap tawassuth dan tasamuh. Dengan begitu, mereka siap bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri keislaman dan keindonesiaan,” ujarnya.
Salah satu peserta, Hafsha Tsaqieba, siswa kelas VII, berharap pengalaman belajar di Pare dapat memberi dampak positif bagi lingkungan sekolah.
“Kami berharap sepulang dari Pare dapat membawa budaya berbahasa Inggris yang lebih kuat dan menjadi penggerak penggunaan bahasa Inggris di lingkungan sekolah,” katanya.
Program IES ini juga disiapkan sebagai stimulus bagi agenda lanjutan berupa student exchange ke luar negeri yang direncanakan pada Juni mendatang..
Ketua Yayasan Al Madina, Dr. KH. Abdul Majid, M.Pd., berharap kegiatan ini diikuti tindak lanjut berkelanjutan untuk menjaga budaya berbahasa global sesuai visi sekolah berwawasan internasional, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Selain aspek akademik, kegiatan ini diharapkan mampu mempererat kebersamaan dan kekeluargaan antarsiswa melalui berbagai aktivitas luar ruangan serta kunjungan edukatif yang menjadi bagian dari paket pembelajaran di Kampung Inggris Pare.(Sugito )










