IDN Hari Ini, Bandara Soetta- Tumpukan sampah yang berserakan di luar tempat pembuangan sampah (TPS) resmi Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) belakangan menjadi perhatian.
Sampah-sampah ini, yang umumnya berasal dari kegiatan logistik, bongkar muat barang, hingga operasional harian bandara, diduga dimanfaatkan secara liar oleh sejumlah pemulung.
Pantauan di lapangan menunjukkan adanya aktivitas pemulung yang bebas memilah dan mengambil barang-barang tertentu dari tumpukan sampah tersebut.
Aktivitas ini berlangsung di luar area pengelolaan sampah resmi atau garbage disposal yang dikelola oleh otoritas bandara.
“Kami sering lihat mereka datang pagi-pagi. Ambil kardus, plastik, bahkan kadang sisa makanan,” ujar salah satu petugas keamanan yang enggan disebut namanya.
Pihak pengelola Bandara Soetta sendiri belum memberikan keterangan resmi terkait fenomena ini.
Namun, sejumlah pengamat menilai hal ini bisa menjadi celah masalah baru, mulai dari potensi penyebaran penyakit, gangguan kebersihan, hingga aspek keamanan bandara.
“Bandara adalah objek vital. Akses yang tidak terkontrol, bahkan hanya untuk urusan sampah, bisa menimbulkan risiko,” kata Andi Subekti, pemerhati transportasi udara.
Sejumlah warga yang tinggal di sekitar bandara menyebut aktivitas pemulung di area luar TPS sudah berlangsung lama dan seperti ‘dimaklumi’.
Tidak sedikit pula yang menduga adanya praktik terselubung di balik aktivitas tersebut, termasuk kemungkinan adanya oknum yang membiarkan atau bahkan mengambil keuntungan.
Hingga kini, belum ada penertiban serius dari pihak berwenang. Padahal, menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 129 Tahun 2015 tentang Keamanan Penerbangan, area bandara harus dijaga ketat, termasuk aspek kebersihannya.
Bahkan Dedi Haryanto selalu pengamat sosial kemasyarakatan sekaligus Ketua LSM Koalisi Independen Transparansi Anggaran Pusat dan Daerah (KITA-PD) Provinsi Banten mendesak agar pengelola Bandara Soetta bersama otoritas terkait segera menertibkan persoalan ini, sebelum berkembang menjadi isu yang lebih besar, pungkas Dedi ke awak media. (Red)








