IDN Hari Ini, Semarang – Sejarah panjang Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) di Indonesia akan memasuki babak baru dalam acara “Transformasi & Sejarah Emas Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Indonesia”.
Hadir sebagai bentuk apresiasi atas peran vital mereka selama setengah abad, acara ini juga akan menjadi ajang diskusi strategis tentang masa depan pemberdayaan sosial di tanah air.
Dilahirkan pada tahun 1975 di era pemerintahan Presiden Soeharto, PSM lahir dari gagasan Menteri Sosial saat itu, M.S. Mintaredja, S.H.
Fokus utamanya saat itu adalah menggeser perdebatan ideologis ke pembangunan ekonomi riil di tingkat desa serta mengatasi keterbatasan aparatur negara .
“Ini adalah upaya untuk menstabilkan dan mengakselerasi pembangunan pedesaan,” ungkap salah satu narasumber yang memahami sejarah kelahiran PSM.
Memasuki tahun 1985, PSM mendapatkan atribut visual resmi melalui Keputusan Menteri Sosial Nomor 4/HUK/1985. Penetapan seragam ini, dengan atasan putih bersih dan bawahan biru tua/navy, baru muncul satu dekade setelah kelahiran PSM.
Hal ini dilakukan untuk memberikan identitas resmi dan legalitas visual di tengah birokratisasi Orde Baru, serta seiring dengan terbentuknya wadah Ikatan PSM (IPSM). Warna krem/khaki sendiri digunakan sebagai variasi untuk Rompi Lapangan (PDL) yang lebih taktis.
Regulasi yang mengatur PSM terus bertransformasi. Dari Permensos 1/2012 yang bersifat Eksklusif-Mandiri, di mana anggota ditunjuk dari kalangan tokoh masyarakat atau pensiunan yang secara ekonomi mapan (swadaya murni), berubah drastis dengan Permensos 10/2019.
Aturan baru ini membuat PSM menjadi lebih Inklusif; syarat ekonomi dihapus total, dan rekrutmen dibuka untuk umum minimal usia 18 tahun .
“Warga prasejahtera justru dinilai memiliki empati lebih tinggi (peer support) terhadap tetangganya,” jelas salah satu pegiat sosial. Sertifikasi pun kini beralih dari status sosial ke kelulusan Bimbingan Teknis (Bimtek) Dasar Kesejahteraan Sosial .
Acara yang direncanakan pada tanggal 18 malam ini akan dihadiri oleh sejumlah tamu VVIP dan pejabat penting, menandakan betapa seriusnya pemerintah dalam mengakselerasi pengentasan kemiskinan melalui penguatan PSM .
Rencana Kehadiran Tamu VVIP:
· Wapres RI (Tentative)
· Wakil Menteri Sosial (75% potensi hadir)
· Budiman Sujatmiko – Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI (60% potensi hadir).
Dijadwalkan memberikan materi pada sarasehan malam hari .
· Gubernur Jawa Tengah (99% potensi hadir)
· Sugeng Suparwoto, MT. – Wakil Ketua Komisi XII DPR RI (50% potensi hadir) .
Tamu VVIP Lainnya:
1. Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, Imam Maskur (Dijadwalkan hadir mengisi sarasehan).
2. Prof. Dr. Andriansyah, M.Sc. – Ketua Umum Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Nasional.
3. Bambang Eko Purnomo – Tokoh Jawa Tengah.
Dengan kehadiran para pemangku kebijakan ini, diharapkan sinergi antara pemerintah dan PSM sebagai ujung tombak kesejahteraan sosial di desa dan kelurahan dapat semakin kuat.
Transformasi ini menandai era baru bagi PSM: lebih terbuka, lebih profesional, dan lebih dekat dengan masyarakat yang membutuhkan. (Sugito)










