IDN Hari Ini, Kota Tangerang – Tradisi kematian masyarakat China Benteng kembali terlihat dalam prosesi pemakaman mendiang Tan Lay Hoa, warga Kelurahan Suka Sari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.
Upacara ini menunjukkan bagaimana budaya Tionghoa yang dipegang masyarakat keturunan Tionghoa lokal, atau yang dikenal sebagai China Benteng, telah mengalami akulturasi dengan budaya masyarakat setempat di Banten.
Tan Lay Hoa, yang tutup usia pada Senin, 28 April 2025 di usia 77 tahun, disemayamkan di Rumah Duka Boen Teak Bio (BTB) Kota Tangerang. Prosesi dilanjutkan dengan malam kembang pada Kamis, 1 Mei 2025, dan dilaksanakan kremasi pada Jumat pagi di Oasis, Bitung, Kota Tangerang. Abu jenazah kemudian dilarung ke laut pada Jumat siang di kawasan Ancol, Jakarta.
Almarhumah meninggalkan empat orang anak dan delapan cucu. Anak sulungnya, Sylvi (58), yang juga menjabat sebagai Bendahara Asosiasi Kabar Online Indonesia (AKRINDO), menyampaikan kondisi kesehatan sang ibu yang menurun sebelum wafat.
“Ya, Bang, ibu saya sebelumnya memang sudah sakit-sakitan. Selain itu, memang faktor usia juga yang membuat kondisi beliau semakin melemah,” ujar Sylvi kepada awak media, Sabtu (3/5/2025).
Upacara kematian masyarakat China Benteng dikenal lebih sederhana dibandingkan dengan upacara tradisional Tionghoa murni. Ini merupakan wujud akulturasi budaya antara budaya Tionghoa dengan masyarakat lokal non-Tionghoa di wilayah Tangerang dan sekitarnya.
Akulturasi tersebut terjadi seiring perubahan zaman dan budaya, namun tetap mempertahankan nilai-nilai penghormatan terhadap leluhur dan spiritualitas dalam tradisi kematian.
Dengan tetap mempertahankan elemen budaya leluhur dan menyesuaikannya dengan lingkungan sekitar, masyarakat China Benteng menjadi contoh konkret bagaimana budaya dapat berdampingan dan menyatu dalam kehidupan sehari-hari, bahkan hingga dalam prosesi kematian. (Red)










