Home / Tulungagung

Rabu, 9 Februari 2022 - 13:07 WIB

Pers Lokal Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga


Penulis : Ronny Rasta (Aktifis Sosial Tulungagung)

IDN Hari Ini, Tulungagung (9/2/2022)
Berbicara tentang wartawan seharusnya adalah berbicara tentang idealisme, berceloteh tentang keberpihakan kepada publik dan bercita cita kepada kemaslahatan, anggap saja bertumpu pada 2 kalimat saja yaitu kebenaran dan keadilan.
Pers bukan corong kekuasaan, pers bukan anjing penjaga kekuasaan namun pers harus berkemampuan menyajikan fakta yang berimbang melalui metode yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dunia pers kita memasuki masa masa euforia sejak tumbangnya era pemerintahan orde baru dimana pada masa itu pers akrab dengan pendiktean, pembungkaman dan pembredelan, sebut saja “tempo””detik”, “editor” dsb.
Tidak dapat kita pungkiri pula, realitas profesi wartawan tidak dapat terlepas dari resiko resiko intimidasi sampai pada kematian, tetapi akrab juga dengan dunia lobbying dan amplop.

Nyamuk pers, dalam kematangan usianya ini, selalu teruji dengan banyaknya wartawan gadungan yang menerima suap receh, berita pesanan dan pencuci mulut membuat citra dan kepercayaan wartawan di mata masyarakat dalam titik yang terendah. Hal tersebut membentuk pola pikir yang merendahkan pekerjaan jurnalis dan menganggap uang tutup mulut adalah jalan satu satunya yang terbaik untuk menghadapinya.

Hakekat jurnalis adalah mencari berita, mengembangkan, mengemas sekaligus menyajikannya kepada khalayak sehingga terjalin symbiosis mutualism antara komunikator dengan komunikan. Maka hendaknya penyajian fakta empirik menjadi porsi terbesar dalam misi jurnalistik ini.
Apa yang melatar belakangi perilaku “menyimpang” dalam dunia jurnalistik ini? Dalam ulasan singkat ini, saya mencoba mengurai satu saja, yaitu faktor internalnya, adalah ketika para wartawan diminta mencari “makan” sendiri-sendiri, biaya operasinalnya pun mandiri dan seterusnya, walaupun tidak berlaku mutlak pada semua perusahaan pers. Media-media tersebut hanya memberikan kartu pers dan akses memuat tulisan pada laman. Selebihnya, nasib seorang jurnalis adalah tergantung seberapa kencang “membaca” peluang negosiasi atas berita, bisa dalam bentuk iklan, menekan narasumber dengan tulisan, dan hal-hal lain yang sepengetahuan saya tidak etis dilakukan dalam dunia jurnalisme yang ideal. Saya rasa perilaku standart ganda oknum pers kita ini lambat laun justru akan membunuh kelangsungan hidup perusahaannya karena mereka hidup dari dedikasi dan label yang diberikan oleh publik.

Teman teman jurnalis yang saya cintai, akhir kata saya ucapkan “SELAMAT HARI PERS” semoga peradaban baru dunia pers kita segera terwujud. Rakyat berharap pers bebas bukan liberalis, pers bebas dan bertanggungjawab, pers pejuang kebenaran dan keadilan. Profesimu. (tim.tla)

Tag: berita Indonesiaberita Indonesia terkiniberita Indonesia terupdateberita Indonesia trendingberita Indonesia viralBerita nasionalberita terbaruberita terkiniberita terupdateberita trendingberita viral, berita opini

Share :

Baca Juga

Tulungagung

Ismiati Resmi Dilantik Sebagai PAW Kades Pojok

Tulungagung

Seleksi Pendidikan Profesi Guru 2022 Digelar Secara Daring Termasuk di Tulungagung

Tulungagung

Ada Apa dengan Judi Sabung Ayam Tanpa Tersentuh Kepolisian?

Tulungagung

Permintaan Maaf di Depan Banser,Warsito Pelaku Pengunggah Vidio Pelecehan Gus Yaqut

Hukum

Hari Anti Korupsi Sedunia, Kajari Tulungagung Gelar Pers Gathering

Tulungagung

Pembayaran Seragam Melalui Kartu Pelajar Pintar Bagi Siswa Miskin Hanya Angan Angan

Tulungagung

Ada Apa Harmoko Sebut Kantor Inspektorat Tulungagung Belum memenuhi Standar & Tidak Kondusif

Tulungagung

Balai Wartawan Tulungagung